Menggali Tradisi Satu Suro di Kidangbang: Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Tengah Zaman

  • Jul 15, 2025
  • FBD 18 Kidangbang
  • Sosial Masyarakat, FBD Kelompok 18 FISIP UB 2025

Kidangbang, 15 Juli 2025 – Artikel ini merupakan bagian dari program kerja Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilaksanakan oleh mahasiswa FISIP UB di Desa Kidangbang. Program ini bertujuan untuk mengangkat dan mendokumentasikan kekayaan tradisi lokal, khususnya perayaan Satu Suro yang menjadi identitas budaya masyarakat.

Penulisan artikel ini diprakarsai oleh Keysha Illena Nathania selaku Penanggung Jawab (PIC) program, melalui proses wawancara langsung bersama Mas Adi, salah satu Kepala Dusun setempat yang memiliki pemahaman mendalam tentang tradisi Suroan. Diharapkan dokumentasi ini dapat menjadi sarana edukasi dan pelestarian budaya, serta memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Desa Kidangbang, Kecamatan Wajak, tetap menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur. Salah satu tradisi yang masih dijalankan dengan penuh khidmat hingga kini adalah peringatan Satu Suro, yang dianggap sebagai tahun baru dalam kalender Jawa dan sekaligus bersamaan dengan 1 Muharram dalam kalender Islam.

Perayaan ini bukan hanya menjadi ajang spiritual, tetapi juga menjadi wujud kebersamaan warga dalam menghormati leluhur serta menyatu dengan alam. Uniknya, di Kidangbang, perayaan Satu Suro tidak hanya berisi doa keagamaan, tetapi juga dipadukan dengan adat Jawa, pencucian pusaka, hingga pertunjukan seni tradisional seperti Bantengan.

Makna Satu Suro dan Ragam Rangkaian Tradisinya

Satu Suro dianggap sebagai bulan paling sakral bagi masyarakat Jawa. Seperti dijelaskan oleh Mas Adi, salah satu tokoh masyarakat Kidangbang, bulan Suro adalah “raja dari dua belas bulan” dalam hitungan adat Jawa. Oleh karena itu, masyarakat melakukan berbagai ritual seperti selamatan, doa bersama, hingga ziarah ke punden, lokasi yang dipercaya sebagai tempat penting dalam sejarah desa.

Tiap dusun di Kidangbang memiliki cara unik dalam merayakan Suro. Di Sumber Jeding dan Sumber Butuh, perayaan bersifat terbuka untuk semua kalangan. Sedangkan di Dusun Kidangberik, kegiatan ini hanya diikuti oleh laki-laki untuk menjaga kekhusyukan acara. Seluruh aktivitas warga dihentikan sementara sebelum acara di punden selesai.

Pantangan dan Kepercayaan yang Dihormati

Tradisi Suro di Kidangbang juga erat dengan nilai spiritual dan pantangan. Warga percaya bahwa melanggar aturan adat saat Suro bisa mendatangkan musibah. Mas Adi menceritakan pengalaman warga yang tetap bekerja saat acara berlangsung dan kemudian mengalami kejadian tragis. Hal ini dipercaya sebagai teguran dari alam dan leluhur.

Kebersamaan dalam Doa dan Makanan

Salah satu bagian yang paling dinantikan dalam perayaan ini adalah tukar-menukar makanan. Warga membawa makanan dari rumah, berkumpul di satu tempat, berdoa bersama, lalu saling bertukar makanan. Ini menjadi simbol rasa syukur atas hasil bumi dan rezeki yang diperoleh selama satu tahun.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan seni Bantengan. Bagi masyarakat Kidangbang, pertunjukan ini bukan sekadar hiburan, tetapi bagian dari ritual yang diyakini melibatkan “roh leluhur” yang ikut hadir dalam suasana sakral.

Menjaga Tradisi di Tengah Modernitas

Meskipun zaman terus berubah, masyarakat Kidangbang tetap antusias menjalankan tradisi ini. Banyak anak muda yang turut hadir, meski belum sepenuhnya memahami maknanya. Para sesepuh berharap tradisi ini terus diperkenalkan sejak dini agar tidak tergerus zaman.

Kalau anak-anak muda nggak dikenalkan sejak kecil, bisa nggak percaya sama sekali nanti,” tutur Mas Adi.

Harmoni antara Islam dan Budaya Jawa

Tradisi Suro di Kidangbang menjadi contoh nyata bagaimana ajaran Islam dan budaya lokal bisa hidup berdampingan. Warga tidak menolak nilai baru, namun juga tidak meninggalkan akar tradisinya. Inilah bukti bahwa budaya bisa terus hidup, beradaptasi, dan tetap bermakna bagi generasi mendatang.

Melalui peringatan Satu Suro, Desa Kidangbang menunjukkan bahwa identitas budaya tidak hanya diwariskan, tapi juga harus terus dirawat agar tetap relevan dan menjadi perekat dalam kehidupan masyarakat yang semakin dinamis.

 

Untuk info lebih lanjut dapat mengakses link dibawah ini

Artikel : https://bit.ly/ArtikelSuroFBDUBKelompok18 

Infografis : https://bit.ly/InfografisSuroFBDUBKelompok18 

 

Artikel Ini Ditulis Oleh : Keysha Illena Nathania 

Credit Photo : Keysha Illena Nathania dan Mochammad Dicky Septiawan