"Sukmo Bantengan": Film Dokumenter Baru Ungkap Pergulatan Tradisi di Era Modern
- Jul 24, 2025
- FBD 18 Kidangbang
- Edukasi, Kreator Konten, FBD Kelompok 18 FISIP UB 2025
Sebuah film dokumenter baru berjudul "Sukmo Bantengan" kini hadir untuk merekam denyut nadi kesenian Bantengan di Desa Kidangbang. Diproduksi oleh Kelompok KKN FBD FISIP UB 18, film ini menyoroti grup bantengan Putra Mataram Baladewa (PMB) dan mengeksplorasi bagaimana tradisi ini berjuang mempertahankan jiwanya di tengah perubahan zaman. Karya ini bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah jendela untuk memahami bagaimana kesenian Bantengan berjuang mempertahankan jiwanya di Desa Kidangbang.
Film ini digarap dengan memusatkan perhatiannya pada grup kesenian Bantengan "Putra Mataram Baladewa" (PMB). "Sukmo Bantengan" berusaha melampaui citra Bantengan sebagai hiburan semata. Sebagaimana dinarasikan dalam film, kesenian ini adalah "nafas hiburan rakyat, sekaligus ruang kebersamaan" yang merawat jati diri masyarakat di tengah perubahan zaman.
Dokumenter ini tidak hanya menampilkan pertunjukan, tetapi juga menggali konflik sentral yang dihadapinya. Salah satu isu krusial yang diangkat adalah pergeseran iringan musik dari gamelan tradisional ke musik DJ modern, sebuah strategi untuk menarik minat generasi muda. Pergulatan ini diperdalam melalui wawancara dengan berbagai generasi, mulai dari sesepuh, remaja yang mempertanyakan relevansinya, hingga anak-anak.
Pada akhirnya, film ini menangkap semangat yang menolak padam, terutama yang tumbuh di dada para pemuda Desa Kidangbang. Wawancara dengan anggota PMB mengenai tantangan dan harapan untuk masa depan menjadi penutup yang reflektif. Sebagaimana disampaikan dalam narasi penutupnya, "Bantengan bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah suara masa kini, dan janji untuk masa depan." Film dokumenter karya Kelompok KKN FBD UB 18 ini menjadi sebuah arsip budaya yang penting, sebuah bukti bahwa selama masih ada yang mau menjaga dan "menari bersama roh-roh leluhur", tradisi akan terus menemukan jalannya untuk hidup di hati masyarakat.
Artikel ini ditulis oleh: Hasna Naifa Putri
Credit photo: Kelompok KKN FBD FISIP UB 18